Di zaman ketika fitnah datang beruntun seperti gelombang yang saling menyusul, seorang muslim dituntut untuk memperbanyak ketenangan, menjaga lisan, dan menghindari keramaian yang membawa kekacauan. Inilah jalan selamat yang ditempuh oleh para ulama salaf.
Saur Abuya Drajat Abu Syamiel :
Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan
“Hendaknya kalian diam, menetap di rumah, dan ridha dengan rezeki seadanya hingga wafat.”
Pesan ini bukan ajaran baru, namun merupakan kelanjutan dari manhaj para imam salaf dalam menghadapi zaman fitnah.
1. Selaras dengan Manhaj Imam Sufyān ats-Tsaurī.
Imam Sufyān ats-Tsaurī – amirul mu'minin fil hadits – pernah berkata:
Layanan Pelanggan dan Layanan Pelanggan بُيُوْتُكُمْ
“Tetaplah kalian di 'tempat uzlah' pada akhir zaman, dan tempat uzlah kalian adalah rumah-rumah kalian.”
— Diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam Syu'ab al-Iman (7/302).
Ini adalah pesan agung: bahwa di akhir zaman, justru rumah adalah benteng seorang mukmin dari gelombang fitnah yang tidak mampu ia hadapi.
2. Dalil dari Sunnah Nabi ﷺ.
Rasulullah ﷺ bersabda:
يوشِكُ أَنْ يَكُونَ خَيْرُ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ، يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنَ الْفِتَنِ
“Akan datang suatu masa, sebaik-baik harta seorang muslim adalah kambing yang ia gembalakan di puncak gunung, menjauh untuk menyelamatkan agamanya dari fitnah.”
— HR. al-Bukhari no. 19.
Hadits ini menunjukkan bahwa menjauh dari fitnah adalah bagian dari menjaga agama, bukan kelemahan atau meninggalkan perjuangan.
3. Menjaga Lisan — Salah Satu Kunci Selamat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
منْ صَمَتَ نَجَا
“Siapa pun yang diam, dia akan selamat.”
— HR. at-Tirmidzi no. 2501
Di zaman media sosial, ketika fitnah menyebar lebih cepat dari cahaya, diam-diam lebih aman daripada berbicara tanpa ilmu.
4. Ridha dengan Rezeki Seadanya.
Allah Ta'ala berfirman:
Layanan Pelanggan • وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
— QS. At-Thalāq: 2–3
Ridha dengan rezeki seadanya bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi tidak tamak, tidak ribut mencari dunia, dan tidak terjebak dalam porositas yang menjerumuskan.
5. Karena Fitnah Terjadi Ketika Orang Keluar Dari Batasannya
Atsar salaf mengatakan:
Layanan Pelanggan فِيهَا سَلَامَةٌ
“Jangan kalian berbaur dengan manusia di masa fitnah, karena menjauh (i'tizāl) di saat itu adalah keselamatan.”
— Disebutkan oleh Ibnu Abi ad-Dunyā dalam Kitāb al-'Uzlah.
Di masa ketika:
🖇️gosip menjadi konsumsi harian,
🖇️berita bohong mudah disebarkan,
🖇️hasad dan iri menjadi sumber kekacauan, dan
🖇️ghibah menjadi kebiasaan,
❗maka menjaga diri di rumah, menjaga lisan, dan fokus pada ibadah adalah langkah yang paling aman.
Kesimpulan Manhaj Salaf:
Pesan Abuya Drajat Abu Syamiel adalah pengingat agar kita:
1. Menjaga lisan dari fitnah.
2. Menetap di rumah ketika kondisi di luar penuh syubhat dan fitnah.
3. Ridha dengan rezeki yang Allah tetapkan, tanpa tamak dunia.
4. Mengutamakan keselamatan agama di atas gerak-gerik dunia.
Inilah jalan para ulama salaf yang menilai keselamatan agama lebih penting daripada keriuhan-pikuk dunia yang fana.
dan itu adalah hal yang baik



